Haryo Sumowidagdo, Salah Satu Fisikawan Indonesia Yang Bekerja di Laboratorium LHC (Large Hadron Collider)


Alih-alih bingung mau menulis apa di blog saya, akhirya sya teringat sesuatu, apa itu? sebuah situs dengan nama: netsains.com, bergegas saya buka netsains.com untuk mencari ide mengenai tema yang akan saya masukkan dalam blog. Di dalam beranda saya pilih kategori yang sesuai dengan bidang saya, fisika, salah satu ilmu yang terkenal di dunia ini, terkenal kerennya, karena banyak orang-orang yang menggunakan atribut fisika di dalam kehidupan mereka sehari-hari walaupun kelihatannya mereka sendiri tidak tahu artinya. Selain itu, terkenal SULIT, memang sulit ilmu fisika, tapi di situlah tantangannya bagi saya dan saya mengakui kalau fisika itu sulit, anda pun mungkin akan berpendapat demikian. Tetapi banyak hal-hal besar yang mengubah dunia dengan penemuan fisika.

Baiklah mari kita kembali ke topik semula, setelah saya buka-buka netsains.com, saya kaget juga ternyata ada juga lho orang Indonesia yang yang terlibat dalam proyek super besar Large Hadron Collider (LHC), sebuah laboratorium pemercepat partikel yang digunakan untuk menguji kebenaran salah satu teori asal mula semesta, Teori Big Bang.

Anda penasaran dengan Haryo Sumowidagdo? Seperti apa ya orangnya sampai-sampai bisa bekerja di CERN (Sebuah Lembaga yang Menaungi LHC)? Pasti dia orang yang hebat ya? Berikut adalah sedikit tanya jawab antara netsains.com dengan Haryo Sumowidagdo. Selamat Membaca!

Netsains.Com – Mereka yang membaca novel Dan Brown, Angel and Demon, pasti tak asing lagi dengan CERN, Conseil Européene pour la Recherche Nucléaire, atau European Organization for Nuclear Research. Kompleks laboratorium percepatan partikel terbesar di dunia yang terletak di perbatasan antara Perancis dan Swis, persis di sebelah barat Jenewa ini memiliki daya tarik tersendiri bagi para peminat ilmu fisika. Di sanalah ribuan ilmuwan yang setengahnya adalah komunitas fisika partikel, melakukan eksperimen bersama.

Siapa nyana ada orang Indonesia di antara ribuan ilmuwan itu? Ya, salah satunya adalah Haryo Sumowidagdo. Lelaki yang menggondol PhD dari Florida State University dan S1 dan S2 di Universitas Indonesia ini sehari-hari berkutat sebagai teknisi, peneliti, sekaligus pembimbing. Obsesi lain, juga ingin menjadi penulis. Kenapa juga cita-cita awalnya adalah menjadi petani?

Berikut adalah obrolannya dengan Netsains.Com secara jarak jauh

Netsains.Com (NS):Apa kesibukan Mas Haryo saat ini? Dengar-dengar sedang sibuk dengan proyek Large Hadron Collider (LHC)?

Haryo Sumowidagdo (HS): Ya, saya terlibat dengan proyek LHC secara tidak langsung. Saat ini saya menjadi anggota Compact Muon Solenois (CMS), sebuah eksperimen fisika partikel yang terletak di LHC. LHC sendiri merupakan bagian dari CERN.

NS: Kesibukan mas sehari-hari apa saja ya di CERN?

HS: Ada tiga kegiatan utama saya hari-hari ini. Pertama adalah bekerja sebagai teknisi. Kedua adalah bekerja sebagai pembimbing. Ketiga sebagai fisikawan.

Sebagai teknisi, saya menulis program kendali dan kontrol untuk alat eksperimen saya. Alat eksperimen fisika partikel tidak dijual di toko, jadi semua harus dibuat dan dikerjakan sendiri. Jadi tidak heran kalau fisikawan partikel eksperimen sering punya keahlian diluar fisika, itu semua karena panggilan tugas.

Sebagai pembimbing, saya membimbing dan menjadi tempat bertanya para mahasiswa program doktoral. Interaksi saya dengan mahasiswa terjadi dua arah: saya juga kadang bertanya kepada mereka.

Sebagai fisikawan, saya menganalisis data untuk melakukan pengukuran besaran fisika atau mencari penemuan baru dalam bidang fisika. Kemudian tentunya menulis karangan ilmiah dan mempublikasikannya di jurnal ilmiah.

Ada kegiatan keempat yang belum banyak saya lakukan yakni mempopulerkan iptek kepada masyarakat luas. Di CERN sini kendala utama adalah saya belum fasih berbahasa Prancis. Saya memulai sebuah blog akhir-akhir ini dalam bahasa Indonesia untuk kegiatan ini, jadi jangan lupa untuk melihat blog saya setelah membaca artikel ini.

NS: Bisa dijelaskan sedikit mengenai LHC itu mas?

HS: LHC merupakan sebuah akselerator/pemercepat zarah. Akselerator adalah sebuah mesin yang bisa mempercepat sesuatu. Mirip dengan pedal gas di sebuah mobil yang bisa menaikkan kecepatan mobil dari diam ke kecepatan tinggi. Zarah (diadaptasi dari bahasa Arab) adalah sesuatu yang sangat kecil, tidak kasat mata, namun merupakan bahan baku yang menyusun semua benda yang kita lihat di sekitar kita. Di dalam LHC, zarah-zarah dipercepat sampai mendekati kecepatan cahaya. Zarah-zarah yang berkecepatan tinggi ini kemudian saling ditubrukkan. Dalam tubrukan tersebut bisa tercipta zarah-zarah lain yang kemudian dilihat oleh alat-alat eksperimen fisika partikel.

LHC merupakan sebuah terowongan di bawah tanah yang membentuk lintasan lingkaran dengan diameter delapan kilometer. Bandara Soekarno-Hatta bisa diletakkan di dalam lingkaran LHC. Letak LHC adalah dekat kota Jenewa di Swiss. Sebagian dari lingkaran LHC berada di wilayah negara Prancis, sebagian lagi berada di wilayah negara Swiss. Gambar-gambar berikut ini bisa menjelaskan lebih lanjut lokasi LHC.

(Peta udara daerah LHC berada. Mesin LHC tidak terlihat karena terletak di bawah tanah).

sumber: http://lhc.web.cern.ch/lhc/general/geography/lhc_map.gif (Peta udara daerah LHC. Di kiri bawah adalah Bandara Cointrin Geneva yang memiliki landas pacu sepanjang 4 kilometer. Bandingkan ukuran Bandara Cointrin dengan LHC).

sumber: http://livefromcern.web.cern.ch/livefromcern/antimatter/history/historypictures/LHC-drawing-half.jpg (Diagram keadaan LHC di bawah tanah).

Akselerator sebenarnya bukan barang yang tidak umum. Kalau anda pernah melihat TV atau monitor komputer jaman dulu yang masih pakai layar kaca, itu sebenarnya akselerator juga ! Di bagian belakang TV / layar monitor ada akselerator yang mempercepat zarah, dan zarah itu kemudian menumbuk layar kaca. Layar kacanya kemudian bersinar, dan kita bisa melihat gambar di layar. Cuma memang LHC ukurannya jauh lebih besar dari TV, dan juga lebih rumit dari TV.

NS: Apakah profesi mas saat ini sesuai dengan cita-cita sejak kecil?

HS: Wah, enggak tuh. Sewaktu saya masih SD saya sebenarnya ingin menjadi petani dan ingin masuk IPB. Alasannya saya terkesan dengan cerita Rumah Kecil (Little House) karangan Laura Ingalls Wilder yang menceritakan betapa petani bisa menjadi orang yang makmur, mandiri, dan hidup dari usaha dan tanahnya sendiri. Ketika di SMP kemudian berubah, ingin menjadi sarjana teknik komputer. Jaman itu komputer pribadi baru masuk di Indonesia dan saya termasuk orang yang beruntung bisa menggunakan komputer.

Terakhir ketika SMA, barulah saya mulai suka kepada fisika dengan serius. Di kelas III SMA (Kelas XII sekarang) saya melamar untuk program penerimaan mahasiswa tanpa tes di Universitas Indonesia (UI). Saya memilih Fisika, dan diterima. Ketika saya di Fisika UI saya bertemu dengan mendiang Prof. Darmadi Kusno dan Dr. Terry Mart. Mereka berdua memberikan pengaruh besar pada saya sehingga saya akhirnya mantap dengan cita-cita untuk menjadi fisikawan. Pak Darmadi ini adalah guru dan pembimbing Pak Terry Mart dan Pak Yohanes Surya, dua orang yang saya yakin namanya sudah sangat dikenal di Indonesia. Pak Terry Mart kemudian menjadi pembimbing skripsi saya. Saya merasa bangga dan bersyukur diberi kesempatan menjadi murid beliau, dan hingga hari ini pun saya tetap hormat dan memiliki hubungan baik dengan beliau.

NS: Selain Mas, apakah ada orang Indonesia lain yang tergabung di CERN?

HS: Rahmat dari University of Mississipi dan Romulus Godang dari University of South Alabama. Mereka berdua merupakan anggota CMS, sehingga mereka juga terlibat dengan CERN. Mereka saat ini masih di Amerika Serikat dan belum diberi kesempatan untuk berkunjung dan bekerja di CERN, doakan saja semoga mereka segera diberi kesempatan.

NS: Siapa ilmuwan idola Mas Haryo?

HS: Idola tunggal tidak ada, dan saya tidak terlalu suka dengan dengan idolisasi ilmuwan. Ilmuwan juga manusia, dan kita harus melihat segi baik dan buruk dari kehidupan mereka. Yang baik diteladani, yang buruk dihindari. Ada banyak ilmuwan yang saya kagumi, namun pada umumnya tidak karena karyanya semata-mata. Melainkan karena mereka merupakan orang yang baik budinya diluar kehidupan sebagai ilmuwan, atau mereka merupakan pelopor pembangunan iptek di negaranya.

NS: Gimana ceritanya dulu kok bisa bergabung dengan CERN? Kan tentunya ngga sembarang orang bisa menembus lembaga keren itu.

HS: Ini semua dimulai dari sebuah artikel di Kompas tanggal 8 Juni 1994. Judulnya: Seorang Fisikawan Indonesia Terlibat Penemuan Top Quark. Artikel itu menceritakan tentang kisah seorang alumni Fisika UI yang tengah menempuh studi doktoral di Amerika Serikat (AS) dan bekerja di Fermilab (sebuah laboratorium fisika seperti CERN yang terletak dekat Chicago, Amerika Serikat). Alumni tersebut terlibat dalam eksperimen fisika partikel yang menemukan ‘top quark’, salah satu partikel elementer. Penemuan top quark merupakan salah satu penemuan sangat penting dalam bidang fisika, setara dengan penemuan-penemuan penting lain yang sudah dianugrahi Hadiah Nobel Fisika. Meski kemudian saya menyelesaikan sarjana fisika dengan topik skripsi fisika partikel teoretik, kesan yang ditinggalkan artikel itu sangat dalam.

Ketika saya diterima sebagai mahasiswa doktoral di AS, saya sebenarnya ingin melanjutkan kembali ke fisika nuklir/partikel teoretik. Namun ternyata profesor-profesor dalam bidang fisika nuklir/partikel teoretik sudah membimbing terlalu banyak mahasiswa doktoral, sehingga mereka tidak lagi punya beasiswa untuk mahasiswa baru. Sebaliknya profesor-profesor fisika partikel eksperimen memiliki beasiswa, dan mereka dengan senang hati mau menerima saya sebagai mahasiswa. Penelitian fisika partikel eksperimen mereka dilakukan di Fermilab. Disinilah saya teringat kembali kepada kisah dalam artikel tersebut dan kemudian memutuskan untuk bergabung dengan grup penelitian fisika partikel eksperimen. Jadi saya berpindah dari teori ke eksperimen, meski masih fisika partikel.

Setelah menamatkan studi, saya mendapat pekerjaan sebagai peneliti pascadoktoral di University of California, Riverside (UCR). Grup penelitian fisika partikel di UCR terlibat dalam eksperimen bernama CMS di CERN, dan saya akan ditempatkan di CERN. Awal tahun 2009 saya pindah dari Fermilab di Chicago ke CERN di Jenewa, dan semenjak itulah saya bekerja di sini.

NS: Apakah menjalani seleksi tertentu?

HS: Seleksi khusus ? Tidak ada. Seseorang tidak perlu menjadi pegawai CERN untuk bekerja di CERN, melainkan bisa dengan menjadi mahasiswa doktoral atau peneliti di grup penelitian yang melakukan penelitian di CERN. Saya bukan pegawai CERN namun saya ditempatkan di CERN. Mirip dengan pegawai Departemen Luar Negeri RI yang ditempatkan di kantor pusat PBB: mereka bukan pegawai PBB tetapi bekerja di kantor pusat PBB. Tentunya harus menjadi mahasiswa doktoral atau peneliti terlebih dahulu.

Untuk kaum muda Indonesia yang tertarik untuk bekerja di CERN, mereka harus menyelesaikan pendidikan sarjana dahulu. Kemudian meneruskan ke pendidikan pascasarjana dan bergabung dengan universitas/grup penelitian yang memiliki kegiatan penelitian di CERN. Ada banyak perguruan tinggi/lembaga penelitian (PT/LP) yang melakukan penelitian di CERN (perkiraan saya 500-600 an) dari seluruh penjuru dunia (66 negara). Jaman sekarang beasiswa untuk pendidikan ke luar negeri sudah sangat banyak, sehingga peluang terbuka lebar bagi siapa saja yang mau berusaha dan bekerja keras.

Menurut saya penyebab sangat sedikitnya orang Indonesia yang bekerja di bidang fisika partikel eksperimen adalah karena ketidaktahuan, dan bukan karena ketidakmampuan. Ketiadaan penelitian fisika partikel eksperimen di Indonesia sama sekali bukan masalah: pengalaman saya dan beberapa rekan dari Indonesia menunjukkan bahwa sarjana fisika lulusan perguruan tinggi di Indonesia bisa menyelesaikan pendidikan pascasarjana bidang fisika partikel eksperimen.

NS: Dari negara mana saja ilmuwan di CERN itu?

HS: Banyak sekali. Ada 66 negara yang memiliki institusi (PT/LP) yang berpartisipasi dalam penelitian di CERN. Kemudian ada lagi orang dari luar 66 negara ini yang bekerja untuk salah satu PT/LP di 66 negara ini (seperti saya misalnya: saya berasal dari Indonesia yang tidak memiliki perguruan tinggi/lembaga penelitian yang melakukan penelitian di CERN, namun saya bekerja untuk UCR yang melakukan penelitian di CERN).

Menurut data dari gambar berikut ada warga negara dari 97 negara yang berada di CERN saat ini.

sumber: http://doc.cern.ch//archive/electronic/cern/others/PHO/photo-bul///bul-pho-2009-101_01.jpg

CERN sendiri memiliki pegawai sekitar 2500 orang, dan ada sekitar 10000 orang yang berkunjung setiap tahun sebagai peneliti tamu. CERN merupakan salah satu organisasi internasional terbesar di Jenewa. (Catatan: Jenewa merupakan lokasi markas besar banyak organisasi internasional dan badan-badan PBB seperti Palang Merah Internasional, UNHCR, WHO, WTO, ILO, dll, lihat misalnya di wikipedia.org.

NS: Menurut Mas Haryo, bagaimana ya agar ilmuwan Indonesia bisa membantu negaranya bangkit dari keterpurukan saat ini?

HS: Wah, ini masalah yang sangat rumit dan saya yakin bukan tanggung jawab kaum ilmuwan semata-mata. Saat ini saya terus terang tidak berusaha berpikir langsung kearah itu. Menurut saya, jika kita-kita yang sudah sukses, tidak hanya ilmuwan, bisa memfokuskan diri pada dua hal ini saja:

  • Berkarya dan berprestasi dengan integritas dan taat hukum.
  • Membina, membantu, dan menunjukkan jalan bagi generasi muda untuk berkarya dan berprestasi.

maka pada jangka panjang dampaknya adalah akumulasi sumber daya manusia (SDM) yang berprestasi dan taat hukum. Sejarah kemerdekaan Indonesia menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia ternyata merupakan senjata yang lebih ampuh untuk melawan penjajahan dan ketidakadilan dibandingkan perjuangan fisik/militer. Peningkatan kualitas SDM Indonesia merupakan cara untuk perlahan-lahan memberikan tekanan kepada pemerintah untuk membuat keputusan-keputusan yang berdampak positif dan mengangkat negara kita.

Ada lagi hal ketiga yang menurut saya sangat penting namun belum dapat saya lakukan saat ini adalah:

  • Memberi masukan, menjalin komunikasi dan hubungan baik dengan para pengambil keputusan (baca: politikus) dengan tetap menjaga integritas diri.

Tidak bisa disangkal bahwa sebuah negara, baik negara maju maupun berkembang, dijalankan oleh politikus. Kita hanya bisa mengubah dan memajukan negara kita jika kita bisa menyampaikan pesan kita kepada para politikus, dan kita memastikan bahwa mereka mendengarkan dan melaksanakan pesan kita. Namun di negara maju dimana proses demokrasi berjalan pun tidak ada jaminan bahwa tidak ada kemungkinan sebuah negara akan terpuruk: Krisis ekonomi global satu dua tahun terakhir menunjukkan bahwa masyarakat dan politikus di negara maju pun dapat mengambil keputusan yang salah.

NS: Apa rencana Mas ke depan? Akan kembali ke Indonesia atau tidak?

HS: Wah, ini pertanyaan yang paling susah dijawab🙂 Saya jawab yang kedua dahulu.

Untuk pertanyaan kedua, pulang ke Indonesia belum menjadi prioritas saya dalam waktu dekat. Alasannya saya belum yakin apakah di Indonesia sudah tersedia infrastruktur yang memadai untuk memulai aktivitas penelitian dalam fisika partikel eksperimen. Perlu dimengerti bahwa infrastruktur tidak berarti sebuah akselerator seperti LHC atau laboratorium besar seperti CERN ! Akselerator sama sekali tidak diperlukan di Indonesia, karena sudah ada banyak akselerator di tempat lain. Demikian pula sudah ada banyak eksperimen fisika partikel yang sedang berjalan, sehingga tidak perlu memulai sebuah eksperimen baru dari nol. Infrakstruktur yang saya maksud misalnya adalah jaringan internet kecepatan tinggi, industri elektronika dan manufaktur, dan dukungan politik untuk penelitian dalam jangka panjang (lebih dari 10 tahun). Meskipun infrastruktur yang diperlukan bukan sebuah proyek mercusuar, tetap diperlukan usaha luar biasa untuk menggabungkan infrastruktur-infrastruktur tersebut untuk membentuk kegiatan penelitian fisika partikel eksperimen yang nyata. Bahkan di negara yang lebih maju dari Indonesia pun hal ini tidak mudah. Misalnya, baru-baru ini saya mendengar bahwa beberapa fisikawan dari National University of Singapore mengajukan proposal untuk bergabung dengan CMS. Namun kemudian mereka menarik kembali proposal ini, karena ada masalah dengan teknis dan pendanaan. Padahal Singapore itu aktivitas penelitian dan infrastrukturnya lebih baik daripada Indonesia.

Untuk yang pertama, dalam jangka panjang saya merencanakan untuk memiliki karir yang mapan dalam bidang fisika partikel eksperimen. Selain fisika partikel eksperimen, saya juga tertarik kepada beberapa bidang yang sangat erat kaitannya dengan fisika partikel seperti instrumentasi, fisika medis, dan teknologi komputasi grid. Beberapa bulan terakhir saya juga banyak berdiskusi dengan para profesor senior tentang bagaimana meniti dan membina karir dalam bidang fisika. Jalan saya ke depan masih panjang dan berat, namun saya optimis bahwa saya akan menemukan jalan untuk membuat rencana saya menjadi kenyataan.***

netsains.com

About Dedy Kurniawan Setyoko

saya adalah lulusan fisika universitas airlangga, karena saya adalah seorang fisikawan, tentunya saya sangat menyukai dunia fisika. Dalam blog ini saya akan mengutarakan semua ide-ide saya. View all posts by Dedy Kurniawan Setyoko

6 responses to “Haryo Sumowidagdo, Salah Satu Fisikawan Indonesia Yang Bekerja di Laboratorium LHC (Large Hadron Collider)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: