Jangan Takut Bilang Cinta


Artikel ini mengingatkan saya kepada teman saya waktu SMA sebut saja namanya Cantik (demi privasi maka namanya disamarkan, hehehe). Cantik sekarang umurnya kira-kira 23 tahun, seorang wanita single yang sudah mapan di sebuah kota di Indonesia. Dia punya cita-cita yang cukup tinggi menurut saya, dan itu bagus untuk masa depannya kelak. Saya pun bangga punya teman seperti dia.

Permasalahan datang ketika dia pulang kampung ke rumah orang tuanya, di rumah dia sudah di wanti-wanti (baca: diperingatkan) oleh kedua orang tuanya untuk segera menikah, karena mengingat umurnya memang sudah siap untuk menikah. Selain itu di daerahnya, untuk ukuran Wanita seumuran temanku ini memang harus sudah menikah. Wah dia kelabakan, bingung bagaimana harus bersikap kepada orang tuanya, di lain sisi dia sadar memang harus segera menikah, sementara di sisi lain dia masih punya banyak keinginan yang belum terwujud. Nah akhirnya, dia memutuskan untuk memenuhi keinginan orang tuanya (barang kali orang tuanya sudah kangen sama cucu kali ya?hehehe). Permasalahan muncul kembali pada saat dia memilih siapa yang akan menjadi calon menantu untuk orangtuanya. Setelah ketemu calonnya, permasalahan pun tak serta merta berhenti. Bagaimana bilang ke si-calon agar dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh temanku ini. Wah, rumit sekali ternyata permasalahan yang menimpa temanku ini.

Setelah semalam saya mendengarkan semua curahan hatinya (bahasa gaulnya curhat) melalui yahoo messanger, akhirnya saya cari-cari tahu solusi dari permasalahannya, nah setelah dicari-cari, akhhirnya saya menemukan artikel ini, ditulis oleh seorang Ustad yang sangat terkenal di Indonesia, terutama kalangan perempuan dan ibu-bu, karena kata mereka ustad ini ganteng. Anda pasti tahu kan siapa ustad kita ini, dialah seorang makhluk ciptaan Allah SWT yang bernama Ustad Jefri Al Bukhori atau lebih dikenal dengan uje. Mari kita simak dengan seksama, semoga memberikan kita masukan yang berharga.

Tatkala usia terus merangkak naik sementara calon suami tak kunjung datang, segera keresahan mulai melanda. Pada masa-masa yang terbilang cukup rawan ini seringkali tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seorang muslimah yang kadang dijadikan teladan di lingkungannya. Ada muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara pernikahan ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Atau bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi, maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orangtua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti jodoh.
Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. Terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Biasanya, ia akan melakukan berbagai hal agar terlihat, berkomentar hal-hal yang tidak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jika mendengar ada laki-laki shaleh yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema “lelaki” pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah.Haruskah terus menerus bersikap membohongi diri seperti contoh pertama di atas. Betapa lelahnya kita ketika harus berbuat seperti itu sementara seolah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan berharap semoga Allah segera mendatangkan pilihanNya. Atau masihkah tidak merasa malu untuk menghinakan diri dengan aksi over acting dan caper.

 

Menurut Ustad Jefri Al Bukhori, banyaknya muslimah yang belum menikah di usianya yang sudah cukup rawan bukannya tidak siap, tetapi karena mereka tidak pernah mempersiapkan diri. Kesiapan di sini, termasuk di dalamnya adalah kesiapan untuk menerima calon yang tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan sebenarnya, meski jika ditilik kembali sesungguhnya lelaki tersebut sudah memiliki persyaratan yang sedikit lebih dibanding lelaki biasa. Misalnya, setidaknya shalatnya benar, akhlaqnya baik, tidak berbuat syirik, dan pergaulannya tidak jauh dari orang-orang shaleh. Artinya, lanjut Ustad Jefri al Bukhori, tidak usah mematok kriteria terlalu tinggi. Walaupun sebenarnya, sah-sah saja untuk melakukannya.

Pada keadaan tertentu, seringkali para muslimah seperti tidak berdaya mengatasi (kelelahannya mencari / menunggu) jodoh. Padahal, ada satu hal yang boleh dan sah saja untuk dilakukan oleh seorang muslimah, yakni menawarkan diri untuk dipinang. Hanya saja, selain masih banyak yang malu-malu membicarakannya, banyak pula yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tabu, karena tidak pernah dicontohkan oleh para orangtua kita. Asalkan pada lelaki yang baik-baik, dalam pandangan Islam sah-sah saja wanita menawarkan diri untuk dipinang.

Ustad Jefri Al Bukhori dalam salah pertemuan SOMSE (Solusi Menikah Segera) di kantor UJE CENTRE pernah mengatakan, seorang muslimah sebaiknya mengungkapkan perasaannya keinginannya untuk dilamar kepada seorang lelaki shaleh yang menjadi pilihannya, ketimbang dia lebih mungkin terkena dosa zina hati karena terus menerus mengharapkan si lelaki tanpa kejelasan atau kepastian.

Hanya saja, yang mungkin perlu diperhatikan adalah seberapa tinggi daya tawar yang dimiliki oleh para muslimah itu ketika dia harus mengungkapkan perasaannya. Pertanyaan yang sering muncul adalah seberapa pantas dirinya saat meminta si lelaki untuk melamar dan menikahinya. Untuk hal ini, sepantasnya bukan kata-kata terlontar dari mulut untuk mengkabarkan kepantasan diri. Namun, dengan mempertinggi kualitas keshalehahan tanpa mengagungkan kecantikan wajah, mengkedepankan akhlaq yang baik sebagai pakaian sehari-harinya disamping juga ia perlu membenahi penampilannya untuk sekedar meningkatkan kepercayaan diri, dan menjaga mata pandangannya untuk selalu bercermin kepada hati, karena di sanalah cinta dapat berkembang.

Bagi mereka, kepentingan menghaluskan wajah tidak mengalahkan kepentingannya untuk menghaluskan jiwanya, karena kecantikan yang murni justru terpancar dari jiwa yang cantik inner beauty. Kecantikan seperti inilah yang senantiasa tumbuh sepanjang waktu. Jika hal-hal itu sudah dipersiapkan sebaik mungkin dan terpatri menjadi hiasan diri, maka melangkahlah untuk menjemput impian. Namun demikian, perlu juga rasanya untuk melatih menata hati dan berjiwa besar jika terpaksa harus bertepuk sebelah tangan atau menerima kenyataan diluar harapan. Wallaahu a lam.

Sumber : UJE

www.ujecentre.com

About Dedy Kurniawan Setyoko

saya adalah lulusan fisika universitas airlangga, karena saya adalah seorang fisikawan, tentunya saya sangat menyukai dunia fisika. Dalam blog ini saya akan mengutarakan semua ide-ide saya. View all posts by Dedy Kurniawan Setyoko

3 responses to “Jangan Takut Bilang Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: