Fasal Tentang Bid’ah III


Nabi Tidak Melakukan Semua Perkara Mubah

Apabila ada orang yang mengharamkan sesuatu dengan berdalih bahwa hal itu tidak pemah dilakukan Rasulullah SAW, maka sebenamya dia mendakwa sesuatu yang tidak ada dasar hukumnya. Oleh karena itu, dakwaannya tidak dapat diterima.

Demikian Abdullah ibn ash-Shiddiq al-Ghumari dalam “Itqanush Shunnah fi Tahqiqi Ma’nal-Bid’ah“. Lebih lanjut beliau mengatakan: ”Sangat bisa dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW tidak melakukan semua perbuatan mubah, dan bahkan perbuatan sunnah, karena kesibukannya dalam mengurus tugas-tugas besar yang telah memakan sebagian besar waktunya.

Tugas berat Nabi antara lain menyampaikan dakwah, melawan dan mendebat kaum musyrikin serta para ahli kitab, berjihad untuk menjaga cikal bakal Islam, mengadakan berbagai perdamaian, menjaga keamanan negeri, menegakkan hukum Allah, membebaskan para tawanan perang dari kaum muslimin, mengirimkan delegasi untuk menarik zakat dan mengajarkan ajaran Islam ke berbagai daerah dan lain sebagainya yang dibutuhkan saat itu utnuk mendirikan sebuah negara Islam.

Oleh karena itu, Rasulullah hanya menerangkan hal-hal pokok saja dan sengaja meninggalkan sebagian perkara sunah lantaran takut memberatkan dan menyulitkan umatnya (ketika ingin mengikuti semua yang pernah dilakukan Rasulullah) jika beliau kerjakan.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW menganggap cukup dengan menyampaikan nash-nash Al-Qur’an yang bersifat umum dan mencakup semua jenis perbuatan yang ada di dalamnya sejak Islam lahir hingga hari kiamat. Misalnya ayat-ayat berikut:

وَمَا تَفْعَلُواْ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللّهُ

Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (Al-Baqarah [2]: 197)

مَن جَاء بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

Siapa yang melakukan amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat dari amal itu.” (QS. Al-An’am [6]: 160)

وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS. Al-Hajj [22]: 77)

وَمَن يَقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهُ فِيهَا حُسْناً

Dan barang siapa yang mengerjakan kebaikan, maka akan Kami tambahkan baginya kebaikan atas kebaikan itu.” (QS. Asy-Syura [42]: 23)

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ

Siapa yang mengerjakan kebaikan walau seberat biji sawi, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. (QS. Az-Zalzalah [99]: 7)

Banyak juga hadis-hadis senada. Maka siapa yang menganggap perbuatan baik sebagai perbuatan bid’ah tercela, sebenamya dia telah keliru dan secara tidak langsung bersikap sok berani di hadapan Allah dan Rasulnya dengan mencela apa yangtelah dipuji.

Dr. Oemar Abdallah Kemel
Ulama Mesir kelahiran Makkah al-Mukarromah
Dari karyanya “Kalimatun Hadi’ah fil Bid’ah” yang diterjemahkan oleh PP Lakpesdam NU dengan tajuk “Kenapa Takut Bid’ah?

About Dedy Kurniawan Setyoko

saya adalah lulusan fisika universitas airlangga, karena saya adalah seorang fisikawan, tentunya saya sangat menyukai dunia fisika. Dalam blog ini saya akan mengutarakan semua ide-ide saya. View all posts by Dedy Kurniawan Setyoko

One response to “Fasal Tentang Bid’ah III

  • insan

    Jawaban bagi orang-orang yg menganggap bid’ah itu baik
    Assalamu’alaikum…
    Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Semua bid’ah sesat walaupun seluruh manusia menganggapnya baik.”[Diriwayatkan oleh al Laalikaai (nomor 126), Ibnu Baththah (205), al Baihaqi dalam kitab al Madkhal Ilas Sunan (191), Ibnu Nashr dalam kitab as Sunnah (nomor 70).]… Dari ‘Aisyah radliyallâhu ‘anha dia berkata, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-ada (memperbuat sesuatu yang baru) di dalam urusan kami ini (agama) sesuatu yang bukan bersumber padanya (tidak disyari’atkan), maka ia tertolak.” (HR.al-Bukhari)
    Di dalam riwayat Imam Muslim dinyatakan, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan termasuk urusan kami (agama), maka ia tertolak.”…
    “Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang diada-adakan, dan setiap hal yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu berada di neraka.” (HR.an-Nasa`iy dari hadits yang diriwayatkan Jabir bin ‘Abdullah)….
    ikhwah fillah, disini sudah jelas dan perlu kita garis bawahi, “SETIAP BID’AH SESAT DAN SETIAP KESESATAN DI NERAKA”, jika kita mengatakan hanya sebagian bid’ah yg sesat pdahal dalam konteks hadist sudah jelas mengatakan setiap BID’ah sesat, lalu kenapa Rasulullah tidak menggunakan kata “SEBAGIAN BID’AH SESAT??” padahal kita tahu bhwa Rasulullah pling faham ttg ummatnya.
    Jika ada yang mengatakan bahwa hal-hal ini bid’ah:
    1. Sahabat Abu bakar dan umar menghimpun Al-qur’an dan membuat mushafnya.
    2.sahabat abu bakar memerangi orang yang tak mau membayar zakat,padahal ketika tsalabah tak mau membayar zakat,nabi tak memeranginya.
    3.sahabat utsman memperbanyak mushaf Al-qur’an dan mengirimnya ke berbagai wilayah.
    4. sahabat umar menghimpun kaum muslimin shalat tarawih berjama’ah.
    5.Sayyidina Utsman ibn Affan menambah adzan untuk hari Jumat menjadi dua kali.
    Maka perhatikanlah hadist berikut, dalam hadits riwayat ‘Irbadh Ibnu Sariyah yang artinya “Barang siapa yang masih hidup di antara kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan karena hal itu sesat. Dan barang siapa yang menemui yang demikian itu, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin. Gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian”. (Riwayat Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 440 dan yang lainnya)..
    dari hadist ini sudah jelas bahwa dikatakan “sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin”, jadi dari hadist ini sudah jelas bahwa kita tidak bisa mengatakan perbuatan para sahabat tersebut bid’ah dan kita tidak bisa menjadikannya dalil untuk membuat bid’ah yg lain, karena apa yg di krjakan olh para sahabat dikatakan sunnah khulafa’ur rasyidin karena mereka sudah mendapat petunjuk.
    Dan kita tahu bahwa golongan terbaik adalah para sahabat, sehingga pastilah merekalah yg pertama kali akan melakukan suatu perbuatan jika itu bernilai ibadah…. ikhwah fillah, cukupkanlah diri kita dengan Sunnah, meskipun kita tidak merayakan maulid nabi, tidak merayakan isra’ mi’raj, kita tidak akan mendapat dosa.
    Pertanyaan buat kita:
    1. Jika kita melakukan shalat dg niat krn Allah, tp tidak sesuai dg cara Rasulullah, apakah shalat kita diterima??
    2. Jika kita Haji lillahi ta’ala, tp tdk sesuai dg petunjuk Rasulullah, apakah Haji kita diterima???
    3. Jika kita puasa lillahi Ta’ala tp tdk sesuai dg ajaran dan tata cara yg di ajarkan Rasulullah, apakah puasa kita akan diterima???
    4. Lalu jika kita berbuat sesuatu yg kita anggap ibadah dan berharap mendapat pahala, akan tetapi tidak sesuai dg cara-cara Rasulullah bahkan tidak pernah di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah perbuatan tersebut akan diterima???
    5. Dan yg terakhir, jika dibedakan antara bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah, selama ini saya hanya mendengar contoh-contoh bid’ah hasanah, lalu apa contoh dari bid’ah dholalah tersebut????
    ingat agama ini berdasarkan wahyu, bukan berdasarkan tradisi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: