Fasal Tentang Bid’ah II


Praktik Bid’ah Hasanah para Sahabat Setelah Rasulullah Wafat

Para sahabat sering melakukan perbuatan yang bisa digolongkan ke dalam bid’ah hasanah atau perbuatan baru yang terpuji yang sesuai dengan cakupan sabda Rasulullah SAW:

مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

Siapa yang memberikan contoh perbuatan baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun. (HR Muslim)

Karena itu, apa yang dilakukan para sahabat memiliki landasan hukum dalam syariat. Di antara bid’ah terpuji itu adalah:

  1. Apa yang dilakukan oleh Sayyidina Umar ibn Khattab ketika mengumpulkan semua umat Islam untuk mendirikan shalat tarawih berjamaah. Tatkala Sayyidina Umar melihat orang-orang itu berkumpul untuk shalat tarawih berjamaah, dia berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”.Ibn Rajar al- Asqalani dalam Fathul Bari ketika menjelaskan pernyataan Sayyidina Umar ibn Khattab “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” mengatakan:”Pada mulanya, bid’ah dipahami sebagai perbuatan yang tidak memiliki contoh sebelumnya. Dalam pengertian syar’i, bid’ah adalah lawan kata dari sunnah. Oleh karena itu, bid’ah itu tercela. Padahal sebenarnya, jika bid’ah itu sesuai dengan syariat maka ia menjadi bid’ah yang terpuji. Sebaliknya, jika bidطah itu bertentangan dengan syariat, maka ia tercela. Sedangkan jika tidak termasuk ke dalam itu semua, maka hukumnya adalah mubah: boleh-boleh saja dikerjakan. Singkat kata, hukum bid’ah terbagi sesuai dengan lima hukum yang terdapat dalam Islam”.
  2. Pembukuan Al-Qur’an pada masa Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq atas usul Sayyidina Umar ibn Khattab yang kisahnya sangat terkenal.Dengan demikian, pendapat orang yang mengatakan bahwa segala perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah adalah haram merupakan pendapat yang keliru. Karena di antara perbuatan-perbuatan tersebut ada yang jelek secara syariat dan dihukumi sebagai perbuatan yang diharamkan atau dibenci (makruh).Ada juga yang baik menurut agama dan hukumnya menjadi wajib atau sunat. Jika bukan demikian, niscaya apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakar dan Umar sebagai­mana yang telah dituliskan di atas merupakan perbuatan haram. Dengan demikian, kita bisa mengetahui letak kesalahan pendapat tersebut.
  3. Sayyidina Utsman ibn Affan menambah adzan untuk hari Jumat menjadi dua kali. Imam Bukhari meriwatkan kisah tersebut dalam kitab Shahih-­nya bahwa penambahan adzan tersebut karena umat Islam semakin banyak. Selain itu, Sayyidina Utsman juga memerintahkan untuk mengumandangkan iqamat di atas az-Zawra’, yaitu sebuah bangunan yang berada di pasar Madinah.Jika demikian, apakah bisa dibenarkan kita mengatakan bahwa Sayyidina Utsman ibn Affan yang melakukan hal tersebut atas persetujuan seluruh sahabat sebagai orang yang berbuat bid’ah dan sesat? Apakah para sahabat yang menyetu­juinya juga dianggap pelaku bid’ah dan sesat?

Di antara contoh bid’ah terpuji adalah mendirikan shalat tahajud berjamaah pada setiap malam selama bulan Ramadhan di Mekkah dan Madinah, mengkhatamkan Al-Qur’an dalam shalat tarawih dan lain-lain. Semua perbuatan itu bisa dianalogikan dengan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dengan syarat semua perbuatan itu tidak diboncengi perbuatan-perbuatan yang diharamkan atau pun dilarang oleh agama. Sebaliknya, perbuatan itu harus mengandung perkara-perkara baik seperti mengingat Allah dan hal-hal mubah.

Jika kita menerima pendapat orang-orang yang menganggap semua bid’ah adalah sesat, seharusnya kita juga konsekuen dengan tidak menerima pembukuan Al-Qur’an dalam satu mushaf, tidak melaksanakan shalat tarawih berjamaah dan mengharamkan adzan dua kali pada hari Jumat serta menganggap semua sahabat tersebut sebagai orang-­orang yang berbuat bid’ah dan sesat.

Dr. Oemar Abdallah Kemel
Ulama Mesir kelahiran Makkah al-Mukarromah
Dari karyanya “Kalimatun Hadi’ah fil Bid’ah yang diterjemahkan oleh PP Lakpesdam NU dengan “Kenapa Takut Bid’ah?

sumber: http://www.nu.or.id

About Dedy Kurniawan Setyoko

saya adalah lulusan fisika universitas airlangga, karena saya adalah seorang fisikawan, tentunya saya sangat menyukai dunia fisika. Dalam blog ini saya akan mengutarakan semua ide-ide saya. View all posts by Dedy Kurniawan Setyoko

2 responses to “Fasal Tentang Bid’ah II

  • agung

    Thanks, mas. Infonya sangat berguna.

  • insan

    Jawaban bagi orang-orang yg menganggap bid’ah itu baik
    Assalamu’alaikum…
    Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Semua bid’ah sesat walaupun seluruh manusia menganggapnya baik.”[Diriwayatkan oleh al Laalikaai (nomor 126), Ibnu Baththah (205), al Baihaqi dalam kitab al Madkhal Ilas Sunan (191), Ibnu Nashr dalam kitab as Sunnah (nomor 70).]… Dari ‘Aisyah radliyallâhu ‘anha dia berkata, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengada-ada (memperbuat sesuatu yang baru) di dalam urusan kami ini (agama) sesuatu yang bukan bersumber padanya (tidak disyari’atkan), maka ia tertolak.” (HR.al-Bukhari)
    Di dalam riwayat Imam Muslim dinyatakan, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan termasuk urusan kami (agama), maka ia tertolak.”…
    “Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallâhu ‘alaihi Wa Sallam sementara seburuk-buruk perkara adalah hal-hal yang diada-adakan, dan setiap hal yang diada-adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan itu berada di neraka.” (HR.an-Nasa`iy dari hadits yang diriwayatkan Jabir bin ‘Abdullah)….
    ikhwah fillah, disini sudah jelas dan perlu kita garis bawahi, “SETIAP BID’AH SESAT DAN SETIAP KESESATAN DI NERAKA”, jika kita mengatakan hanya sebagian bid’ah yg sesat pdahal dalam konteks hadist sudah jelas mengatakan setiap BID’ah sesat, lalu kenapa Rasulullah tidak menggunakan kata “SEBAGIAN BID’AH SESAT??” padahal kita tahu bhwa Rasulullah pling faham ttg ummatnya.
    Jika ada yang mengatakan bahwa hal-hal ini bid’ah:
    1. Sahabat Abu bakar dan umar menghimpun Al-qur’an dan membuat mushafnya.
    2.sahabat abu bakar memerangi orang yang tak mau membayar zakat,padahal ketika tsalabah tak mau membayar zakat,nabi tak memeranginya.
    3.sahabat utsman memperbanyak mushaf Al-qur’an dan mengirimnya ke berbagai wilayah.
    4. sahabat umar menghimpun kaum muslimin shalat tarawih berjama’ah.
    5.Sayyidina Utsman ibn Affan menambah adzan untuk hari Jumat menjadi dua kali.
    Maka perhatikanlah hadist berikut, dalam hadits riwayat ‘Irbadh Ibnu Sariyah yang artinya “Barang siapa yang masih hidup di antara kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan karena hal itu sesat. Dan barang siapa yang menemui yang demikian itu, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin. Gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian”. (Riwayat Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 440 dan yang lainnya)..
    dari hadist ini sudah jelas bahwa dikatakan “sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin”, jadi dari hadist ini sudah jelas bahwa kita tidak bisa mengatakan perbuatan para sahabat tersebut bid’ah dan kita tidak bisa menjadikannya dalil untuk membuat bid’ah yg lain, karena apa yg di krjakan olh para sahabat dikatakan sunnah khulafa’ur rasyidin karena mereka sudah mendapat petunjuk.
    Dan kita tahu bahwa golongan terbaik adalah para sahabat, sehingga pastilah merekalah yg pertama kali akan melakukan suatu perbuatan jika itu bernilai ibadah…. ikhwah fillah, cukupkanlah diri kita dengan Sunnah, meskipun kita tidak merayakan maulid nabi, tidak merayakan isra’ mi’raj, kita tidak akan mendapat dosa.
    Pertanyaan buat kita:
    1. Jika kita melakukan shalat dg niat krn Allah, tp tidak sesuai dg cara Rasulullah, apakah shalat kita diterima??
    2. Jika kita Haji lillahi ta’ala, tp tdk sesuai dg petunjuk Rasulullah, apakah Haji kita diterima???
    3. Jika kita puasa lillahi Ta’ala tp tdk sesuai dg ajaran dan tata cara yg di ajarkan Rasulullah, apakah puasa kita akan diterima???
    4. Lalu jika kita berbuat sesuatu yg kita anggap ibadah dan berharap mendapat pahala, akan tetapi tidak sesuai dg cara-cara Rasulullah bahkan tidak pernah di ajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah perbuatan tersebut akan diterima???
    5. Dan yg terakhir, jika dibedakan antara bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah, selama ini saya hanya mendengar contoh-contoh bid’ah hasanah, lalu apa contoh dari bid’ah dholalah tersebut????
    ingat agama ini berdasarkan wahyu, bukan berdasarkan tradisi..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: